Petualangan

banyak hal yang aku sukai dan yang membuat aku tertarik

Kamis, 29 Juli 2010

Amazing Discovery

Betapa senangnya saat melihat si gadis kecil menemukan sebuah mainan dari hasil percobaannya sendiri. Ia melakukannya tanpa bantuan aku atau orang dewasa lainnya. Ia melakukannya sendiri.

Saat kami berkunjung ke rumah orangtua kami, nenek dan kakek bagi ‘gadis kecil’ kami. Si gadis kecil pulang habis bermain ke rumah teman dengan membawa beberapa lembar daun dan menunjukkannyan pada ku. Dia bilang daun itu adalah daun untuk bikin gelembung. Setelah aku amati ternyata daun itu adalah daun bunga sepatu. Aku bertanya kenapa dia menyebutnya daun untuk membuat gelembung, si gadis kecil berkata “soalnya ini bisa dibuat gelembung”. Oh ya? Aku jadi penasaran, bukan karena aku belum tahu tapi karena aku terkejut seingat aku, aku belum pernah memberitahunya. Aku berusaha mencaritahu sejauh mana dia memahami tentang daun itu dengan bertanya seperti apa cara membuatnya. Dengan senang hati si gadis kecil memberitahuku. Dan inilah proses pembuatannya.

Sambil praktek, si gadis kecil menjelaskan:

1. Daun di remas hingga terasa licin.









2.campur daun yang telah diremas dengan air










3. Tambahkan sedikit sabun pencuci piring










4. Remas-remas hingga semua bahan tercampur










5.
Daann….gelembung sabun siap di tiup.






Waah…penemuan yang menabjubkan bukan? Ketika ditanya kenapa harus pakai daun, si gadis kecil berkata “soalnya biar hasil gelembungnya besar” hmmm patut dicoba.

Sabtu, 24 Juli 2010

Kebahagiaan Seorang Guru

“sekarang ibu ngajar apa? Masih di TK ?” demikian seorang wali murid di sekolahku mengajar bertanya padaku. Pertanyaan itu sering terdengar di awal tahun ajaran di hari pertama anak-anak masuk sekolah. Di hadapan mereka dengan penuh percaya diri ku jawab “iya, Alhamdulillah masih dipercaya mendampingi teman-teman kecil di TK ”. Terkadang aku tidak yakin dengan jawaban yang aku ungkapkan kepada mereka yang bertanya. Apa benar aku bahagia mengajar di TK? apa benar jawabanku itu adalah jawaban yang sejujurnya? Aku akui sepanjang tahun ajaran, selama aku menjadi guru di kelas anak-anak yang usianya terbilang dini aku sering menemukan hal-hal yang membuat diriku tidak nyaman, hal-hal yang mengundang rasa “geregetan”, dan perasaan tidak enak lainnya bercampur aduk. Tapi aku juga tidak bisa memungkiri bahwa saat-saat bersama mereka aku juga banyak menemukan hal yang mengundang haruku, mengundang tawa, dan bahagia.
Banyak penemuan-penemuan yang ku dapat selama membimbing mereka. Bersama mereka aku belajar untuk memahami karakter setiap individual yang berbeda. Bersama mereka aku belajar untuk bersabar mengendalikan emosi negatifku yang dikenal orang sebagai “pemarah”. Bersama mereka aku belajar menerima kekurangan yang dimiliki setiap orang. Dan banyak hal yang ku dapat dari para “manusia kecil” yang pengalaman hidupnya baru sedikit dibanding aku tetapi memiliki banyak keajaiban yang tak disangka-sangka. Hal itulah yang membuat aku selalu ingin berkata “wow, it’s amazing child” ketika aku menemukan perilaku atau perkataan yang tak terduga dari mereka.
Masih terbayang saat-saat awal mereka bergabung. Ada yang langsung bisa menunjukkan sikap mandiri dan terlihat siap menjalani hari-hari di sekolah. Tapi perhatian besar tak luput dari anak-anak yang bagiku sangat merepotkan di awal semester. Mereka menangis tidak mau ditinggal, mereka manja benar-benar harus selalu dibantu dan didampingi, ada yang benar-benar aktif tidak bisa diam dan sering mengganggu teman, ada yang tidak fokus saat aku bicara tidak bisa merespon kata-kataku sehingga sering membuatku bertanya pada diri sendiri “aku harus bicara dengan bahasa yang bagaimana agar mereka mengerti perkataanku?”, dan banyak lagi yang lainnya. Tapi seiring berjalannya waktu mereka akan berubah sesuai tahapan perkembangan masing-masing, sesuai datangnya “masa peka belajar” mereka. Di situlah rasa bahagiaku muncul, aku merasa jerih payahku membuahkan hasil yang baik. Bagiku mereka kini semakin terlihat lebih matang dan siap menjalani kehidupan selanjutnya. Dan yang tak kalah membuat aku semakin bangga pada diri sendiri adalah pernyataan terima kasih dari orangtua mereka berkat bimbinganku. Hah…diri ini rasanya terbang ke langit mendengar sanjungan itu. Meski aku selalu meresponnya dengan pernyataan “Alhamdulillah, ini berkat dukungan Ayah dan Bunda juga kesiapan ananda. Biar bagaimanapun aku tidak boleh merasa bahwa aku punya jasa bagi murid-muridku. Karena bagiku melihat mereka mengalami perkembangan positif, itu cukup membuatku bahagia “Lillahi Ta’ala” .
Kembali ke soal jawabanku pada orangtua yang kuceritakan di awal tadi. Terkadang keraguanku muncul di kala perjalananku menempuh proses satu tahun pelajaran aku bertemu teman yang mengaktualisasikan dirinya di bidang lain. Aku bergumam dalam hati, bahagianya mereka rasanya aku juga ingin merasakan berada di posisi mereka. Disitulah terkadang muncul konflik batin bahwa aku sering merasa lelah dan jenuh dengan profesiku yang monoton. Dari tahun ke tahun jadi guru kelas TK terus, aku mau berubah posisi. Dan aku pernah mengalami guncangan dengan persoalan itu. Yang akhirnya membuatku tersadar bahwa dimanapun aku berada kalau aku tidak menjalaninya dengan tulus ikhlas aku akan selalu melihat bahwa diriku ini tidak bahagia dan orang lainlah yang bahagia. Tapi kini harus kuakui memang benar, selama aku tidak pernah merasa puas dan selalu membandingkan dengan orang lain aku akan selalu merasa diriku ini tidak bahagia.
Pengalaman itu sangat berarti bagiku dan aku sekarang sudah menemukan jawaban atas kegelisahanku selama ini. “apa benar aku adalah guru yang bahagia? Aku dapat menjawabnya dengan mantap “Ya aku bahagia sebagai seorang guru”. Karena itulah tujuanku di akhir kelulusanku dari SMA, karena aku senang saat-saat berada bersama murid-muridku, karena aku bahagia di kala aku melihat perkembangan mereka, dan yang paling membuatku bahagia adalah di saat aku dapat mengaktualisasikan diri pada profesi yang aku tekuni sejak tujuh tahun yang lalu. Dan seandainya Allah memberikan aku pilihan untuk kembali ke masa sekolah dulu agar aku dapat merubah cita-citaku, aku tidak akan memilihnya. Meski aku banyak menerima kesulitan, meski aku banyak mengalami kegagalan, dan rasa tidak nyaman kini bagiku itu adalah sebuah proses kehidupan yang tetap aku jalani dan aku harus tetap bertahan dan berjuang demi mendapatkan sebuah kebahagiaan.